Skip to main content

Makan Secukupnya - sebuah tulisan yang bagus dari millis

 DSL dan Stategi Pemerataan Jaringan Nasional
"Makanlah Secukupnya"

Rekan-rekan yang baik,

Ada banyak tawaran vendor untuk teknologi yang menggiurkan baik kepada pelanggan maupun khususnya kepada operator untuk memperbaharui jaringan mereka.

Vendor tidak salah menawarkan suatu teknologi yang cocok untuk negara maju kepada negara berkembang. Yang salah adalah negara berkembang, termasuk Indonesia, kalau menerimanya tanpa mempertimbangkan kondisi dan kemampuannya. Keputusan ada di tangan pemerintah dan pimpinan operator. Makin besar perusahaannya, makin besar pula dampaknya secara nasional.

Contoh adalah perluasan jaringan dengan SO (serat optik) langsung ke rumah atau pelanggan, yang disebut FTTH (Fiber to the Home).
AS sendiri sebagai negara maju dan besar termasuk yang kalah cepat dengan negara2 maju lain seperti Jepang, Korea, dan negara2 Skandinavia di Eropa. Mengapa?Oleh karena geografi dan tantangannya tidak sama dengan negara2 yang relatif kecil ditinjau dari geografi, tingkat kesenjangan dan kesejahteraan penduduk mereka.

AS, Kanada, Brasil dll adalah negara2 yang geografinya luas seperti 
Indonesia, dan oleh karena itu perlu lebih didalami dalam penggunaan teknologi perluasan jaringan telekomunikasi/TIK mereka, termasuk pentingnya peran satelit.

Para operator kita sebaiknya tidak terlalu bernafsu untuk mencari kekhasan dalam mengenalkan teknologi atau layanan baru sebagai 
keunggulan kompetisi (competitive advantage). Melainkan lebih pada 
pelayanan yang berkualitas dan merata. Perusahaan besar telekomunikasi sudah seharusnya memikirikan kepentingan nasional sebagai harga yang mereka harus bayar kembali kepada Negara untuk hak yang diberikan kepada mereka untuk berusaha di Republik ini dalam mencari keuntungan bagi para pemegang saham mereka.

Sebenarnya dengan menggunakan investasi mereka untuk perangkat teknologi yang tepat sasaran para operator bersama dengan pemerintah serta regulator dapat dengan jeli meraih keuntungan yang lebih besar dan sekaligus mempersembahkan kepada Negara suatu jaringan telekomunikasi/TIK yang lebih merata. Kompromi memang diperlukan untuk jumlah investasi di kota besar pada khususnya, 500 kota/kabupaten dan daerah pedesaan. Namun demikian perluasan di luar kota besar dan kota2 kecil harus dianggap sebagai peluang masa depan daripada beban.

Dalam pemilihan teknologi pita lebar yang saat ini tak terhindarkan 
lagi, baik dari segi kebutuhan ekonomi maupun kemudahan sosial, perlu strategi pengembangan yang bijaksana (wise) sehingga investasi tidak terhamburkan dan dengan demikian bisa digunakan untuk jaringan dan wilayah yang seluas mungkin.

Saya pernah meneruskan beberapa kali bahwa FTTH jangan diartikan sebagai sambungan langsung SO ke rumah, melainkan lebih sebagai sambungan SO ke suatu simpul (node) atau yang disebut FTTN (Fiber to the node) atau (Fiber to the Curb=tikungan). SO dari sentaral hanya sampai simpul dan dari simpul ke rumah memakai kabel pasangan (cable pair) biasa yang berkualitas baik untuk telepon. Ini cukup memberikan kapasitas hingga 1-2 Mbps, dan bahkan mencapai berturut-turut 10 Mbps dan 100 Mbps masing-masing untuk panjang kabel dari simpul ke rumah tidak melebihi 500m dan 200m, yang disebut DSL.Jadi mubazirlah menggunakan SO sampai ke rumah langsung (kecuali gedung bertingkat perkantoran). Ini bukan masalah harga SO-nya tetapi harga modemnya yang mahal. Menurut kalkulasi para ahli di lapangan penggunaan DSL akan menghemat dana investasi sampai 6 kali lipat dibandingkan FTTH.

Contoh ulasan dari Verizon di bawah ini yang khas untuk suatu negara maju seperti AS, yang walau negara maju masih selalu mempertimbangkan penggunaan DSL bagi daerah2 yang belum kebahagian pita lebar.

Penawaran dari para penyedia jaringan SO yang menggembar-gemborkan bahwa akan bisa menerima kapasitas kecepatan tinggi dalam kondisi seperti Indonesia, di kota-kota besar sekalipun, merupakan suatu iklan kebohongan saja. Pertama karena sang penyedia jaringan tidak memiliki sentral sendiri, dan kedua jaringan pita lebar nasional masih semrawut tumpang tindih, dan tidak tersambung dengan kapasitas memadai ke gerbang internasional (international gateway). Dan sampai di gerbang internasional akan sangat tergantung apakah jumlah kapasitas ke negara tujuan tersedia cukup, jika tidak maka akan terjadi pencekikan trafik (bottle neck) di tingkat atas.

Salam,
APhD

http://blog.connectedplanetonline.com/unfiltered/2011/04/19/verizon-repackages-dsl-bundles-with-simplicity-in-mind/

Verizon repackages DSL bundles with simplicity in mind

by Dan O'SheaApril 19th, 2011

Comments

Popular posts from this blog

Kalula Kejurda Jawa Barat 2023

  Selamat Kalula, mengikuti kejuaraan Kejurda  Senam 2023 di Bandung mewakili Kota Bekasi. https://koranbekasi.id/2023/12/17/atlet-lapis-2-persani-kota-bekasi-raih-2-medali-di-kejurda-jabar/ amalkann

Kehara Porprov Jawa Barat 2022

 https://bogor.inews.id/read/210062/perkasa-tim-senam-kabupaten-bogor-lampaui-target-medali-di-arena-porprov-jabar-2022?utm_medium=sosmed&utm_source=whatsapp&fbclid=PAAaYRP2JUKwnA_6J7U_Vv8noGbZ3fDT-zd9Z4tsbeLjxFFShaaw7Ll3p-9XI

Kehara - Persani Pemprov Kab.Bogor

 https://bogor.inews.id/read/129704/jelang-porprov-jabar-2022-persani-kabupaten-bogor-bersinergi-libatkan-orang-tua-atlet/2